Sebelum bertemu Ayah, Ibu Anjani adalah perempuan yang hanya tahu satu cara hidup: bertahan. Di perantauan, Ibu hanya memikirkan hari esok. Dia hanya ingin Anjani kelak tidak pernah merasakan getirnya berjuang sendirian.
Tapi, Tuhan itu baik. Dia mengirim Ayah.
Ayah bukan pangeran, dia hanya seorang laki-laki sederhana yang janjinya lebih mahal dari emas. Dia mengutamakan Ibu. Selalu.
Maka, perpisahan ini adalah luka yang terasa perih. Apalagi saat jadwal Satgas Ayah keluar, Anjani sudah berusia tujuh bulan di dalam perut Ibu. Tujuh bulan. Jarak antara Ayah dan Ibu kini bukan hanya Kalimantan, tapi juga bulan-bulan yang terasa seperti tahunan.
Juni, setelah Idul Adha. Ayah meminta Ibu merapikan perlengkapannya. Ayah tidak akan pernah tahu, bahwa Ibu menahan tangisnya di setiap lipatan baju yang ia masukkan. Setiap helai pakaian itu adalah metafora tentang jarak yang akan memisahkan mereka. Ibu terlihat baik-baik saja di depan semua orang, bahkan di sekolah, di depan murid-muridnya. Tapi, apa gunanya terlihat kuat, jika hatimu remuk?
Namun, di malam terakhir itu, Ibu melakukan satu hal rahasia. Ibu menyimpan satu pakaian Ayah yang terakhir dipakai di rumah. Pakaian itu diselipkan di lemari gantung, di sudut yang hanya Ibu yang tahu.
Karena Ibu tahu, jika rindu datang tanpa permisi, satu-satunya penawar adalah mencium aroma Ayah. Aroma itu adalah sisa-sisa memori yang menolak untuk ikut pergi.
Ibu pura-pura kuat di depan semua orang. Tapi di malam hujan deras saat mengantar Ayah ke kesatuan, Ibu tahu, kesendirian itu sudah datang.
Hari keberangkatan tiba. Ayah melarang Ibu mengantar ke pelabuhan. Ayah bilang, “Jangan, kamu dan Anjani jangan sampai kelelahan. Karena Ayah sayang kalian.”
Dan di hari itu, Ibu tahu, babak baru telah dimulai. Babak di mana Ibu harus menjalani hari hanya ditemani Anjani di dalam perut.
Hari-hari pertama adalah penyesuaian yang menyakitkan. Ibu sering mengusap perutnya, dan berbisik pelan, “Maaf ya, Nak. Ibu sedih, tapi Ibu minta kamu jangan ikut sedih. Ibu mau kamu kuat didalam sana.”
Ibu itu kuat. Dia adalah definisi dari kekuatan seorang ibu. Sungguh. Dia pergi kontrol kandungan sendirian. Dia lihat ibu-ibu lain tertawa ditemani suaminya, sementara Ibu hanya ditemani Anjani yang menendang-nendang.
Dia tidak pernah sendiri, karena dia selalu membawa janji dari cinta sejati di dalam perutnya.


