Awalnya, rumah itu adalah tempat paling hangat. Di sana, tidak ada yang perlu dibuktikan. Ayah dan Ibu Anjani hanya perlu saling pandang, dan semua tahu: mereka bahagia.
Tapi, bahagia itu punya cara aneh untuk menguji seberapa serius kita. Tepat di bulan ketiga, saat Anjani mulai terasa denyutnya, Ayahnya harus pergi. Tugas negara. Kalimantan. Satu tahun.
Ayah bilang, jarak itu hanya angka, tapi Ibu tahu, jarak adalah luka yang perihnya tidak bisa diobati dengan obat, melainkan dengan kepulangan.
Ibu sedih. Siapa yang tidak. Tapi, dia harus pura-pura kuat, karena dia sadar, di dalam perutnya ada Anjani yang ikut merasakan. Kata orang, air mata Ibu adalah hujan paling deras yang dirasakan oleh janin.
Namun, ujian itu tidak berhenti pada jarak.
Di bulan keempat, tengah malam, dingin sekali. Ibu kelelahan. Tapi itu belum apa-apa. Di rumah sakit, cobaan itu datang lagi. Detak jantung Anjani di dalam rahim berpacu, kencang sekali. Terlalu kencang. Berisiko.
Saat itu, Ayah tahu: seorang laki-laki hebat itu tidak pernah panik, tapi dia akan melakukan apa pun agar dua dunianya selamat.
Ayah tidak perlu berpikir. Dia hanya bicara pada dokter, “Dok, selamatkan mereka. Bagaimana pun caranya.”
Ibu dirawat. Setiap hari detak jantung Anjani dipantau, diukur, dijaga. Ayah mengawasi semuanya. Dia tahu, dia akan segera pergi. Waktunya hanya tinggal beberapa minggu sebelum latihan, lalu tugas sesungguhnya.
Melihat sisa waktu yang tipis itu, Ibu hanya bisa tegar. Dia berusaha keras untuk tidak menangis di depan suaminya. Ibu tahu, cinta yang jujur harusnya tidak menambah beban bagi yang dicintai.
Ayahnya mungkin tidak tahu kapan persisnya air mata Ibu tumpah, tapi Ayahnya tahu, kapan hati Ibu terluka.
Sampai hari keberangkatan latihan itu tiba. Ayah pergi. Tapi Ayah meninggalkan lebih dari sekadar rindu. Dia meninggalkan perhatian yang tidak bisa dibeli. Di sela-sela latihan yang keras, Ayah selalu mencari celah, memutar otak, mencari kesempatan agar bisa pulang sebentar, hanya untuk memastikan dua dunianya itu baik-baik saja.
Karena baginya, Anjani dan Ibumu adalah tugas yang lebih penting daripada tugas yang lain.

0 comments:
Posting Komentar