"Celakalah kau, mati terjebak dalam karyaku." selamat membaca,

Rabu, 03 Desember 2025

Anjani: Tentang Kekuatan Seorang Ibu dan Payung Rindu

Sebelum bertemu Ayah, Ibu Anjani adalah perempuan yang hanya tahu satu cara hidup: bertahan. Di perantauan, Ibu hanya memikirkan hari esok. Dia hanya ingin Anjani kelak tidak pernah merasakan getirnya berjuang sendirian.

Tapi, Tuhan itu baik. Dia mengirim Ayah.

Ayah bukan pangeran, dia hanya seorang laki-laki sederhana yang janjinya lebih mahal dari emas. Dia mengutamakan Ibu. Selalu.

Maka, perpisahan ini adalah luka yang terasa perih. Apalagi saat jadwal Satgas Ayah keluar, Anjani sudah berusia tujuh bulan di dalam perut Ibu. Tujuh bulan. Jarak antara Ayah dan Ibu kini bukan hanya Kalimantan, tapi juga bulan-bulan yang terasa seperti tahunan.

Juni, setelah Idul Adha. Ayah meminta Ibu merapikan perlengkapannya. Ayah tidak akan pernah tahu, bahwa Ibu menahan tangisnya di setiap lipatan baju yang ia masukkan. Setiap helai pakaian itu adalah metafora tentang jarak yang akan memisahkan mereka. Ibu terlihat baik-baik saja di depan semua orang, bahkan di sekolah, di depan murid-muridnya. Tapi, apa gunanya terlihat kuat, jika hatimu remuk?

Namun, di malam terakhir itu, Ibu melakukan satu hal rahasia. Ibu menyimpan satu pakaian Ayah yang terakhir dipakai di rumah. Pakaian itu diselipkan di lemari gantung, di sudut yang hanya Ibu yang tahu.

Karena Ibu tahu, jika rindu datang tanpa permisi, satu-satunya penawar adalah mencium aroma Ayah. Aroma itu adalah sisa-sisa memori yang menolak untuk ikut pergi.

Ibu pura-pura kuat di depan semua orang. Tapi di malam hujan deras saat mengantar Ayah ke kesatuan, Ibu tahu, kesendirian itu sudah datang.

Hari keberangkatan tiba. Ayah melarang Ibu mengantar ke pelabuhan. Ayah bilang, “Jangan, kamu dan Anjani jangan sampai kelelahan. Karena Ayah sayang kalian.”

Dan di hari itu, Ibu tahu, babak baru telah dimulai. Babak di mana Ibu harus menjalani hari hanya ditemani Anjani di dalam perut.

Hari-hari pertama adalah penyesuaian yang menyakitkan. Ibu sering mengusap perutnya, dan berbisik pelan, “Maaf ya, Nak. Ibu sedih, tapi Ibu minta kamu jangan ikut sedih. Ibu mau kamu kuat didalam sana.”

Ibu itu kuat. Dia adalah definisi dari kekuatan seorang ibu. Sungguh. Dia pergi kontrol kandungan sendirian. Dia lihat ibu-ibu lain tertawa ditemani suaminya, sementara Ibu hanya ditemani Anjani yang menendang-nendang.

Dia tidak pernah sendiri, karena dia selalu membawa janji dari cinta sejati di dalam perutnya.

Read More

Selasa, 02 Desember 2025

Anjani: Kisah Tentang Detak Jantung dan Janji Laki-Laki

Awalnya, rumah itu adalah tempat paling hangat. Di sana, tidak ada yang perlu dibuktikan. Ayah dan Ibu Anjani hanya perlu saling pandang, dan semua tahu: mereka bahagia.

Tapi, bahagia itu punya cara aneh untuk menguji seberapa serius kita. Tepat di bulan ketiga, saat Anjani mulai terasa denyutnya, Ayahnya harus pergi. Tugas negara. Kalimantan. Satu tahun.

Ayah bilang, jarak itu hanya angka, tapi Ibu tahu, jarak adalah luka yang perihnya tidak bisa diobati dengan obat, melainkan dengan kepulangan.

Ibu sedih. Siapa yang tidak. Tapi, dia harus pura-pura kuat, karena dia sadar, di dalam perutnya ada Anjani yang ikut merasakan. Kata orang, air mata Ibu adalah hujan paling deras yang dirasakan oleh janin.

Namun, ujian itu tidak berhenti pada jarak.

Di bulan keempat, tengah malam, dingin sekali. Ibu kelelahan. Tapi itu belum apa-apa. Di rumah sakit, cobaan itu datang lagi. Detak jantung Anjani di dalam rahim berpacu, kencang sekali. Terlalu kencang. Berisiko.

Saat itu, Ayah tahu: seorang laki-laki hebat itu tidak pernah panik, tapi dia akan melakukan apa pun agar dua dunianya selamat.

Ayah tidak perlu berpikir. Dia hanya bicara pada dokter, “Dok, selamatkan mereka. Bagaimana pun caranya.”

Ibu dirawat. Setiap hari detak jantung Anjani dipantau, diukur, dijaga. Ayah mengawasi semuanya. Dia tahu, dia akan segera pergi. Waktunya hanya tinggal beberapa minggu sebelum latihan, lalu tugas sesungguhnya.

Melihat sisa waktu yang tipis itu, Ibu hanya bisa tegar. Dia berusaha keras untuk tidak menangis di depan suaminya. Ibu tahu, cinta yang jujur harusnya tidak menambah beban bagi yang dicintai.

Ayahnya mungkin tidak tahu kapan persisnya air mata Ibu tumpah, tapi Ayahnya tahu, kapan hati Ibu terluka.

Sampai hari keberangkatan latihan itu tiba. Ayah pergi. Tapi Ayah meninggalkan lebih dari sekadar rindu. Dia meninggalkan perhatian yang tidak bisa dibeli. Di sela-sela latihan yang keras, Ayah selalu mencari celah, memutar otak, mencari kesempatan agar bisa pulang sebentar, hanya untuk memastikan dua dunianya itu baik-baik saja.

Karena baginya, Anjani dan Ibumu adalah tugas yang lebih penting daripada tugas yang lain.

Read More

Anjani: Kisah Tentang Jarak dan Senja



Anjani.

Bagiku, Anjani itu bukan sekadar nama perempuan, tapi sebuah kode rahasia dari Tuhan untuk bilang, “Lihat, cinta itu ada, dan dia sangat kuat.”
Usianya baru tiga bulan, tapi kalau kamu tanya, berapa lama kisahnya, jawabannya: sejak Ibu dan Ayahnya berjanji.
Namanya berasal dari Jawa dan Sanskerta, katanya bermakna Ibu dari Kekuatan. Jadi, tidak heran, dia sekuat itu.

Ayahnya? Ah, Ayahnya itu laut. Sumpah jabatannya di TNI AL membuatnya harus terpisah jarak, di sana, di Kalimantan, selama setahun. Jarak adalah alasan kenapa rindu diciptakan, dan Ayahnya kini sedang bekerja keras dengan alasan itu.
Sementara Ibu, dia seorang guru SMK. Dia mengajar tentang masa depan, tapi masa depannya sendiri sedang berjuang keras.

Waktu Anjani baru tujuh minggu, kecil sekali, bahkan mungkin hanya sebesar kelingking, dia sudah tahu caranya berjuang. Saat Ibunya flek, saat tubuh Ibunya kelelahan karena harus ikut kaderisasi, Anjani bilang, “Tidak, aku tidak akan pergi.”
Dia tahu betul, di dunia ini, tidak semua perpisahan itu diizinkan.

Kata bidan waktu itu, Anjani adalah janin yang kuat. Dan dia memang membuktikan itu.

Dia ikut Ibunya ke mana saja. Saat Ibunya mengajar di kelas, Anjani ada di sana, mendengarkan. Saat kandungan empat bulan, Ibunya ikut lomba pidato, Anjani pun ikut. Mungkin dia adalah penyemangat tanpa suara di perut Ibunya, yang membuat kalimat-kalimat itu jadi puitis.

Anjani, kamu itu bukan hanya anak. Kamu adalah surat cinta terpanjang dari Ayahmu untuk Ibumu, yang ditulis dengan perjuangan.
Read More

Minggu, 14 April 2024

ASUMSI

 

Setauku, semua orang ingin dihargai, begitu pula aku, meskipun aku adalah orang baru.
 Tiba pada malam aku harus bergelut dengan pikiranku sendiri
Aku rasa masa lalu memang harus ditinggalkan
Aku, keluargaku dan kerabatku
Karena semua sudah berakhir.

Apa jadinya kalau masa lalu masih menjadi bayang-bayang keluarga dan kerabatku?
Dengan masih berkomunikasi atau hanya sekadar menyapa,
Apakah itu akan menyakiti pasanganku?
Bagaimana perasaan dia?

Aku rasa pasanganku merasa tidak baik baik saja,
Bahkan mungkin dia merasa tidak dihargai dengan adanya komunikasi dengan masa lalu
Aku sangat tidak ingin menyakiti hati pasanganku sendiri,
Meskipun itu hanya sekedar sapaan

Aku tau itu akan sakit sekali rasanya,
Meskipun tidak diungkapkan,
Merasa hanya hal sepele,
Tapi tidak sepele untuk beberapa orang yang ada di posisi itu.

Dan mungkin masa laluku akan berfikir kalau keluargaku masih tidak bisa melupakan dia.

Semua orang mempunyai akal dan hati,
Semua orang ingin dimengerti
Aku tidak berhak melarang siapapun untuk memutus komunikasi,
Tapi setidaknya bisa sedikit menghargai
Read More

Rabu, 31 Agustus 2022

DENIAL

 

Pinterest by lady viktoria

 

"Aku mengalaminya lagi, tapi untuk kali ini terjadi didunia nyataku, sangat menakutkan, karena aku yakin aku tidak akan sanggup, siapapun tolong aku."

Menjadi yang tidak diharapkan itu sebuah ketakutan

Tapi ini benar terjadi, dan sudah terjadi

Kedatangan orang baru dihidupnya,

Yang menjadikanmu tersingkir

Kasian sekali...


Pasti dipikiranmu berkata,

"Ah kenapa harus ada orang itu,

menghancurkan semuanya saja."

Terlihat egois sekali kamu,

Memang kamu siapa sampai mengatur hidupnya.


Memangnya dia peduli terhadapmu?

Tiba-tiba marah,

Aneh kamu ini,

Kenapa menangis?

Kamu saja yang terlalu berlebihan.


Pasti setelah baca ini kamu merasa marah,

Marah saja,

Karena memang ini adanya,

Dia tidak peduli denganmu,

Ayolaaah..


Sudah overthingking dengan tulisan diatas?

Apa yang kukatakan itu benar,

Tapi santai saja,

Dia itu kan selalu ada disampingmu,

Tidak pernah menolak ajakanmu,


Perilaku dia masih sama,

Memperlakukanmu berbeda dengan yang lain,

Jadi apa yang kamu takutkan?

Dia akan tertarik dengan yang baru?

Oh iya jelas kemumgkinan begitu.


Hei,

Kamu itu sedang Denial

Kamu sedang mengabaikan kenyataan

Kamu enggan mengakui hal buruk ini nyata

Kamu akan lelah dengan semua ini


Semarang, 1 September 2022

Read More

Senin, 14 Maret 2022

Ketakutanku Terjadi


"Terkadang aku ingin bertanya pada Tuhan, kenapa Dia selalu menjauhkan apa saja yang berada didekatku disaat aku sudah merasa nyaman salah satunya kamu.."


Belum lama kita bersama,

ketakutanku selama ini terjadi lagi,

dengan luka yang hampir sama,

namun deangan orang yang beda.


Ketakutanku terjadi,

dimana kamu tiba-tiba berubah,

seperti ada masalah yang kau fikirkan,

dan merubahmu menjadi tidak seperti kamu biasanya.


Ketakutanku benar terjadi,

ketika aku ingin membuatmu yakin,

kalau kita bisa bersama,

dan kita bisa menyelesaikan semuanya bersama.


Ketakutanku terjadi lagi dan lagi,

Ketika kamu sudah siap menceritakannya,

memaksaku untuk menerima keadaan,

yang kamu tau kalau aku sulit mennerima.


Apa kamu akan berfikir tentang aku sejauh ini?

aku rasa itu kemungkinan kecil,

entah yanng kamu ceritakan itu benar atau salah,

atau itu strategimu untuk aku pergi.


Ikhlas itu sulit,

apalagi untuk orang sepertiku,

tidak semudah yang kamu katakan dan harapkan,

melihat hal hal yang pernah kita lakukan.


Lantas bagaimana?

aku tidak menemukan jalan keluar untuk diriku sendiri,

otakku perang dengan batinku,

aku tidak menemukan jalan tengahnya.


sampai aku menulis ini,

aku belum menemukan jalan keluarnya..


Semarang, 15 Maret 2022

Devrisha Alfianita

Read More

Begini sajakah?

 

Bagaimana selanjutnya kita? Apa mau seperti ini terus menerus sampai kau menemukan yang lain?

Akhir-akhir ini aku sangat menyukai salah satu lagu di playlist favorit ku.

Semakin kudengar, semakin aku sadar, lagu itu seperti menggambarkan kita.


Setelah semuanya kita lewati bersama,

Ingin biasa saja tapi rasanya sudah berbeda,


Begini sajakah?

Hanya aku saja yang berharap kita akan lama,

Kamu? mana aku tau.


Semarang, 15 Maret 2022

Devrisha Alfianita


Read More

Selasa, 07 Desember 2021

Tentang Ichi Ocha




 

Sepertinya tubuh memang sudah membutuhkan Healing

Untuk menghindari rencana yang merugikan

Dua hari mungkin

Entah sendiri atau bersama orang yang kita sayang


Besok Ayah dan Adikku Ulang Tahun

Aku merencanakan untuk membelikan mereka sesuatu

Ya meskipun sederhana

tapi agar mereka terlihat senang


Sudah cukup beban yang aku berikan pada mereka

Sedari kecil, meminta ini itu

Meski kata orang usia ku ini masih tanggung jawab mereka

Tapi aku rasa di usia ku ini, aku harus membahagiakan mereka


Aku anak pertama,

Anak prempuan satu-satunya

Yang kata orang juga "enak dong mau apa diturutin"

Tapi Ayah mendidikku agar menjadi orang yang mandiri


Dari aku kecil, Ayah mendidikku keras

Ayah mau aku bisa apapun

Mulai Les Renang, mengajariku menggambar,

Melukis dan pengetahuan lainnya


Waktu SD pun Ayah masih mendidikku dengan keras

Dari pola belajar

Belajar 

dan Belajar


Sewaktu SMP, Ayah berpesan agar aku menemani nenek di Desa

Awalnya aku enggan, karena harus jauh dari Ibu

Tapi setelah ku pikir itu adalah ide bagus,

Agar aku bisa terbebas dari aturan Ayah


SMP dan SMA aku ikut dengan nenek

Ternyata tidak seperti yang aku bayangkan

Memang aku bebas, dan bisa dapat ini itu

Tapi tetap saja harus dibayar dengan mental


Aku mulai belajar untuk masa bodoh sejak itu

Dan akhirnya aku sampai pada jenjang kuliah

Aku kuliah di salah satu Universitas Negeri yang ada di Semarang

Pikirku ini adalah kesempatan untuk menjadi manusia merdeka


Saat ini aku berada di semester Akhir sekali hehe

Ya aku sambil bekerja

Karena aku memilih untuk tidak meminta uang dari mereka lagi

Aku ingin menjadi manusia merdeka


Tapi setelah aku pikir lagi kemarin setelah pulang bekerja

Aku merindukan mereka

Aku merasa aku butuh mereka saat ini

Tapi aku tidak bisa menemui mereka dalam waktu dekat ini


Kata orang aku terkena Home Sick

Aku berfikir, hebat sekali aku bisa menghadapi semuanya

Hari-hari yang penuh kesakitan

Tanpa adanya mereka


Sebentar,

Sepertinya aku memiliki Catatan di Fb ku

Akan aku pindahkan mereka kesini

Agar tidak tercecer


Kalian mau membacanya tidak?

Tidak?

Huh, Lemes..

Hahahaha


Semarang, 8 Desember 2021

Devrisha Alfianita

Read More

Hari-hari Berat


Hari-hari ini rasanya lelah,
Terkadang selalu mengajak untuk menyerah,
Namun selalu teringat kata Ayah,
Kamu hidup itu bagiku anugerah.

Tapi asal mereka tau,
Aku jarang sekali mengeluh,
Pagi bekerja sampai penuh dengan peluh,
Sebelum tertidur harus dihujani dengan keluh.

Rasanya aku butuh dipeluk,
Sudah cukup tiap malam meringkuk,
Merasakan pedih sampai ke rusuk,
Dan hanya angin yang berani keluar masuk.

Aku berulang kali membaca soal kesehatan mental,
Mungkin sampai setan dikamarku ikut hafal,
Didepan banyak orang terlihat sangat kuat,
Padahal diri sendiri rasanya seperti diikat.

Aku tulis ini setelah pulang bekerja,
Sambil mengistirahatkan beban di kepala,
Dengan rintikan air mata,
Sungguh aku hanya ingin bercerita.

Berat menjadi anak pertama,
Perempuan satu-satunya,
Dituntun untuk menjadi contoh adiknya,
Tanpa orang tua tau keluh kesahnya.

Semarang, 7 Desember 2021

Devrisha Alfianita
Read More

Senin, 06 Desember 2021

Teruntuk Mendiang Novia Widyasari Rahayu

 

Pinterest-Jenna Rodarte's Art Against Sexual Assault

Dear NOVIA..
Maaf baru membaca surat-suratmu..
Aku baru mengetahuimu dari pemberitaan yang sedang ramai dibicarakan.
Dan aku telat mengetahui bahwa kau seorang penulis.

Novia, satu hari lalu aku menangis,
Setelah membaca semua tulisanmu,
Keluh kesahmu saat itu,
Pasti kau berada di posisi yang sangat bingung waktu itu.

Tapi disini aku tidak akan membahas surat-suratmu
Aku berdoa kepada Tuhan agar kau ditempatkan pada tempat terbaik.
Begitu pula untuk semua Korban kekerasan
dan semua Penyintas Kekerasan Seksual

Aku menyebutmu sebagai Pahlawan Penyintas Kekerasan Seksual
Kau cukup berani untuk mencari keadilan atas dirimu sendiri
Meskipun orang-orang yang telah kau mintai bantuan,
Tidak mempedulikan kondisi mentalmu saat itu.

Kau tau Novia,
Aku sering membaca tentang Kasus Kekerasan Seksual
Itu yang kadang membuatku menangis sebelum tidur
Dalam hatiku berkata "Kapan Penindasan terhadap Perempuan berakhir?"

Dan kapan Negara ini berpihak pada para korban?
tanpa bertanya "tapi kalian menikmati kan?"
atau ungkapan semacam "Kalian kan mau sama mau"
Terkadang Lembaga itu tidak mengerti dengan apa yang kita rasakan

Bahkan ketika kamu meminta keadilan pada ibu pacarmu sendiri,
Beliau tidak peduli dengan nasib dan kondisimu,
Begitu pula dengan Paman-pamanmu,
yang mengancammu dan menganggap kamu mencoreng nama baik keluarga

Yaa..
Begitulah kita Nov,
Lahir di Negara yang kental dengan budaya Patriarkinya
Terkadang kalau kita melawan, sering dianggap melenceng.

Mereka akan selalu menganggap Perempuan sebagai aib
Menganggap semua otoritas berada di pihak laki-laki,
laki-laki yang berkuasa,
apapun yang merusak citra laki-laki, perempuan yang harus disingkirkan

Novia Widyasari Rahayu,
Kau sudah tidak merasa sakit lagi,
Kau hebat telah memperjuangkan martabatmu sebagai manusia
Kau sudah melawan dengan sehormat-hormatnya

Semoga kisahmu ini menjadi motivasi para penyintas yang lain,
Bagi para perempuan yang sedang memperjuangkan haknya
Aku berharap kita semua para perempuan,
Semakin erat dalam memperjuangkan hak perempuan.

Salam dariku Novia,
Perempuan yang pernah memiliki trauma
Perempuan yang pernah mengalami Pelecehan
Perempuan yang memiliki cita-cita membantu dan melindungi perempuan lain yang mengalami hal yang sama.


Semarang, 6 Desember 2021

Devrisha Alfianita

Read More

Minggu, 05 Desember 2021

CERITA YANG SAMA

 

"SEMUA ORANG PUNYA BAHAGIA"


Apa seperti itu?

Apa juga berlaku untukku?

Kurasa tidak..

Karena beberapakali rasanya sesak.


Jadi, masih pantaskah aku mendapat bahagia?


Kisahnya sama,

Hanya ita itu saja..


Kalian akan bosan mendengarnya,

Setan dikamarkupun sudah bosan.


Tahu tidak?

Yang terakhir kemarin itu telah membuatku yakin.

yakin kalau tidak semua laki-laki sama.

Nyatanya dia juga yang membuatku runtuh dengan keyakinanku.


Kalian tahu?

Aku ingin sembuh, sembuh dari kesakitan ini..

Dan kembali pada keyakinan,

Bahwa tidak semua laki-laki sama.


Kapan?

Ya mana aku tahu, yang jelas pasti akan ada.


Semarang, 5 Desember 2021

Devrisha Alfianita

Read More