"Celakalah kau, mati terjebak dalam karyaku." selamat membaca,

Selasa, 02 Desember 2025

Anjani: Kisah Tentang Jarak dan Senja



Anjani.

Bagiku, Anjani itu bukan sekadar nama perempuan, tapi sebuah kode rahasia dari Tuhan untuk bilang, “Lihat, cinta itu ada, dan dia sangat kuat.”
Usianya baru tiga bulan, tapi kalau kamu tanya, berapa lama kisahnya, jawabannya: sejak Ibu dan Ayahnya berjanji.
Namanya berasal dari Jawa dan Sanskerta, katanya bermakna Ibu dari Kekuatan. Jadi, tidak heran, dia sekuat itu.

Ayahnya? Ah, Ayahnya itu laut. Sumpah jabatannya di TNI AL membuatnya harus terpisah jarak, di sana, di Kalimantan, selama setahun. Jarak adalah alasan kenapa rindu diciptakan, dan Ayahnya kini sedang bekerja keras dengan alasan itu.
Sementara Ibu, dia seorang guru SMK. Dia mengajar tentang masa depan, tapi masa depannya sendiri sedang berjuang keras.

Waktu Anjani baru tujuh minggu, kecil sekali, bahkan mungkin hanya sebesar kelingking, dia sudah tahu caranya berjuang. Saat Ibunya flek, saat tubuh Ibunya kelelahan karena harus ikut kaderisasi, Anjani bilang, “Tidak, aku tidak akan pergi.”
Dia tahu betul, di dunia ini, tidak semua perpisahan itu diizinkan.

Kata bidan waktu itu, Anjani adalah janin yang kuat. Dan dia memang membuktikan itu.

Dia ikut Ibunya ke mana saja. Saat Ibunya mengajar di kelas, Anjani ada di sana, mendengarkan. Saat kandungan empat bulan, Ibunya ikut lomba pidato, Anjani pun ikut. Mungkin dia adalah penyemangat tanpa suara di perut Ibunya, yang membuat kalimat-kalimat itu jadi puitis.

Anjani, kamu itu bukan hanya anak. Kamu adalah surat cinta terpanjang dari Ayahmu untuk Ibumu, yang ditulis dengan perjuangan.

0 comments: